KOMPAS.com - Usai banjir bandang menerjang dan memutus Jembatan Leuwidinding, di Sukabumi, Jawa Barat pada Desember 2025, riak deras sungai menjadi arena bertaruh nyawa setiap hari. Demi menyambung roda kehidupan, warga nekat menyeberang dengan perahu karet.
Kondisi itu terekam dalam pemberitaan Kompas.com yang terbit pada Rabu (15/7/2026). Tak berhenti pada satu pemberitaan, Kompas.com terus mengawal perkembangan kondisi Jembatan Leuwidinding dengan memperbarui informasi dan menelusuri kabar terbaru mengenai rencana perbaikannya kepada pemangku kebijakan setempat.
Komitmen mengawal isu tersebut menemukan titik terang pada Minggu (6/9/2026). Proses pembangunan kembali Jembatan Leuwidinding resmi dimulai lewat gotong royong antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi, TNI Angkatan Laut, dan dukungan yayasan yang dikelola oleh Jusuf Hamka.
Perubahan nyata di Sukabumi menjadi salah satu cerminan dari semangat "jurnalisme berdampak" yang terus dirawat oleh Kompas.com. Jurnalisme berdampak adalah karya jurnalistik yang tidak hanya mengabarkan peristiwa dan fakta, tetapi juga mengetuk kepedulian, menggerakkan kebaikan, serta menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat.
Baca juga: Jurnalisme Berkualitas Kini Jadi Aset Bernilai di Era AI
Selama 31 tahun hadir menemani pembaca, Kompas.com senantiasa memegang teguh prinsip untuk terus membawa dampak positif bagi bangsa. Pemimpin Redaksi Kompas.com Amir Sodikin menegaskan, di era banjir informasi dan dominasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), media massa harus melangkah lebih jauh dari sekadar menyajikan fakta.
“Kalau berita-berita kita sekadar memenuhi banjir informasi, itu tidak akan memberi dampak bagi audiens kita. Makanya, dua tahun ini jurnalisme berdampak kita jadikan tagline untuk tujuan akhir, bahwa jurnalisme itu tidak sekadar menampilkan berita, tetapi harapannya ada perubahan nyata di masyarakat," ujar Amir saat dihubungi Kompas.com, Rabu (9/9/2026).
Ia menambahkan, ruh dari jurnalisme berdampak di Kompas.com berakar dari nilai dasar "jurnalisme makna" yang diwariskan oleh para pendiri Kompas.
“Jurnalisme makna sebagai spirit, kemudian jurnalisme berdampak sebagai tools action yang bisa langsung kita ukur, monitor, dan dirasakan hasilnya oleh publik,” tegas Amir.
Baca juga: Filosofi Jakob Oetama dan Warisan Jurnalisme yang Menyejukkan
Di balik ribuan kata yang terbit setiap harinya, pemberitaan Kompas.com kerap menjadi pemantik perubahan nyata.
Salah satu kisah datang dari Abdul Aziz, guru honorer di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Islam 1 Penjaringan, Jakarta Utara. Sejak motornya hilang dicuri pada November 2025, pria berdomisili Tegal Alur, Jakarta Barat, itu harus mengayuh sepeda belasan kilometer demi membagikan ilmu kepada generasi penerus bangsa.
Kisah dedikasi Abdul yang diunggah melalui tayangan reels Kompas.com pada Rabu (22/4/2026) menyentuh hati nurani publik. Uluran tangan dari relawan Gerak Bareng hadir membawa sepeda motor baru untuk menunjang mobilitas Abdul dalam mengajar.
Baca juga: Kisah Rudi Manggala, Guru Honorer Disabilitas Jadi Sosok Pahlawan Pendidikan di Pelosok Bogor
Jangkauan Kompas.com tidak berhenti pada lembar pemberitaan. Melalui program Jagat Literasi, Kompas.com turun langsung ke daerah-daerah untuk menyalurkan buku, mendampingi tenaga pendidik, serta mengasah literasi generasi muda.
Narasi dalam Jagat Literasi turut menjadi jembatan agar sekolah-sekolah yang membutuhkan perhatian infrastruktur dapat tersentuh pembenahan, salah satunya di Garut, Jawa Barat.
Dalam kunjungan ke Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Simpang pada Rabu (12/8/2026), tim Jagat Literasi memotret kondisi perpustakaan yang kurang layak. Reportase yang dipublikasikan melalui akun Instagram Kompas.com mendorong sinergi pemangku kepentingan.
Baca juga: Harapan Baru dari Buku Baru, Senyum Siswa SDN 2 Simpang di Pedalaman Garut
Pada akhir Agustus 2026, pemerintah bersama jajaran Komisi IV DPR RI merencanakan renovasi SDN 2 Simpang secara menyeluruh mencakup pembangunan perpustakaan, penambahan ruang kelas, serta perbaikan toilet sekolah.
Realitas tersebut membuktikan bahwa karya jurnalistik tidak harus selalu viral secara masif di media sosial untuk mampu menghadirkan solusi. Kuncinya terletak pada pesan yang sampai ke tangan pengambil kebijakan yang tepat.
“Viralitas itu dampak di level 2 yang kita harapkan ending-nya nanti bersifat konkret. Kalau tidak viral, itu tidak masalah sebenarnya, tapi kita harus punya target market yang spesifik. Misalnya, konten itu dibaca oleh pengambil kebijakan yang bisa mendorong perubahan,” jelas Amir.
Baca juga: SDN 2 Simpang Garut yang Nyaris Roboh Direnovasi
Memasuki usia ke-31, Kompas.com menegaskan komitmennya berkelanjutan agar setiap dampak yang dihasilkan tidak berhenti sebagai aksi sesaat, melainkan memberi manfaat jangka panjang bagi fondasi sosial, budaya, dan lingkungan.
“Selain dampak literasi, kami harap dampaknya bersifat lebih menyeluruh dan egaliter. Artinya, tidak hanya dirasakan oleh lapisan masyarakat tertentu atau elitis. Bahkan, kami ingin dampaknya juga dirasakan dari sisi sosial dan budaya,” kata Amir.
Sejalan dengan itu, Amir mengatakan bahwa perayaan hari ulang tahun (HUT) ke-31 Kompas.com dilaksanakan secara sederhana dan tetap bermakna. Ia berharap doa dan ucapan para mitra serta kolega dapat dialihwujudkan dalam bentuk donasi literasi.
Satu karangan bunga setara dengan donasi 10 buku untuk mendukung perjalanan Jagat Literasi ke 13 provinsi dan 36 sekolah sekaligus menekan jejak karbon.
Baca juga: Bertolak ke NTT, Tim Kompas.com Bawa Donasi Pembaca dan Misi Jagat Literasi
Semangat untuk terus memberi dampak tentu tak hanya datang dari ruang redaksi. Jurnalisme berdampak juga tumbuh dari suara para pembaca. Di usia 31 tahun, Kompas.com berkomitmen untuk terus mendengarkan agar tetap hadir relevan di tengah masyarakat.
Menurutmu, apa yang bisa Kompas.com lakukan agar semakin berdampak? Sampaikan pandangan dan harapanmu untuk Kompas.com melalui laman berikut: https://ucapan.kompas.com/hut-kompascom