Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Warta Sukacita

Sekolah Rakyat Capai 166 Titik, Memutus Rantai Kemiskinan

Kompas.com, 15 Januari 2026, 17:33 WIB
Tsabita Naja,
DWN

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Harapan baru tumbuh di kalangan anak-anak dari keluarga paling rentan di Indonesia usai diluncurkannya 166 Sekolah Rakyat secara serentak pada Senin (12/1/2026).

Peluncuran tersebut menjadi simbol kehadiran negara untuk memutus rantai kemiskinan ekstrem melalui akses pendidikan berkualitas yang selama ini sulit dijangkau oleh masyarakat kelas bawah.

Pemerintah melalui Kementerian Sosial (Kemensos) menghadirkan Sekolah Rakyat untuk memberikan kesempatan yang setara bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem agar dapat belajar, tumbuh, dan meraih masa depan yang lebih baik tanpa terbentur keterbatasan ekonomi.

Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf mengatakan, Sekolah Rakyat dirancang secara khusus untuk menjangkau the invisible people, yakni masyarakat yang penderitaannya tidak terlihat.

Baca juga: Mengelola Literasi di Sekolah Rakyat

“Sekolah Rakyat memuliakan wong cilik, menjangkau yang belum terjangkau, dan memungkinkan yang tidak mungkin,” ujarnya dalam Peresmian Sekolah Rakyat di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), Senin.

Pria yang akrab disapa Gus Ipul itu melaporkan bahwa 60 titik Sekolah Rakyat telah beroperasi sejak Juli 2025, disusul 37 titik pada Agustus 2025, kemudian 66 titik di akhir September hingga awal Oktober 2025.

“Total terdapat 166 titik Sekolah Rakyat yang tersebar di 34 provinsi dan 131 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Keseluruhannya menampung 15.954 siswa, 2.218 guru, dan 4.889 tenaga kependidikan,” jelasnya.

Hasil pengamatan Kemensos mencatat anak-anak yang terpilih untuk mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat berasal dari keluarga dengan kondisi yang sangat rentan.

Baca juga: 14 Sekolah Rakyat di Jateng Gratiskan Pendidikan bagi 1.275 Anak

Sebanyak 60 persen orangtua mereka bekerja sebagai buruh harian lepas, kuli bangunan, buruh tani dan nelayan, tukang ojek, pemulung, dan lain sebagainya.

Mereka umumnya berpenghasilan tidak tetap, 67 persen tercatat berpenghasilan di bawah Rp 1 juta per bulan, dan 65 persen memiliki tanggungan di atas empat orang.

Gus Ipul mengungkapkan bahwa tak sedikit siswa Sekolah Rakyat yang terpaksa bekerja di usia yang sangat muda, 454 siswa tidak atau belum pernah mengenyam bangku pendidikan, sementara 289 siswa mengalami putus sekolah atau tidak lulus.

“Kami juga menemukan kenyataan yang lebih sunyi. Banyak anak berasal dari keluarga dengan orangtua tunggal, bahkan mengalami kekerasan dalam rumah tangga,” ucapnya.

Baca juga: Anak Selalu Jadi Korban dari Kekerasan dalam Rumah Tangga

Untuk memastikan bantuan pendidikan ini jatuh ke tangan yang tepat, proses seleksi dilakukan secara ketat melalui pemeriksaan di lapangan oleh pendamping sosial, dinas sosial (dinsos) di setiap daerah, dan Badan Pusat Statistik (BPS).

Perubahan nyata pada siswa

Meski baru berjalan enam bulan, dampak nyata Sekolah Rakyat telah terlihat terhadap para siswa, mulai dari peningkatan kesehatan, akademik, hingga kepribadian.

Salah satu siswa Sekolah Rakyat bernama Nazril telah membuktikannya. Siswa yang duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA) kelas 1 ini semula masih kesulitan membaca saat awal masuk Sekolah Rakyat.

Namun, kini Nazril telah lancar membaca, bahkan menjadi salah satu siswa berprestasi. Kini, ia pun lebih optimistis menghadapi masa depan berkat ketekunan dan bimbingan para guru.

Baca juga: Aturan Kemendikdasmen, Siswa Berprestasi Bisa Dapat Fasilitas Karier Bekerja

Selain aspek akademik yang meningkat, kebugaran siswa turut membaik dan angka anemia menurun berkat program pemenuhan gizi berupa tiga kali makan dan dua kali camilan setiap hari.

“Di sini kami belajar satu hal, ketika anak-anak mendapatkan rasa aman dan diperhatikan, mereka tumbuh,” tegas Gus Ipul.

Pesan dan harapan Presiden Prabowo

Pada kesempatan yang sama, Presiden Prabowo Subianto memberikan pesan bagi para siswa. Ia menekankan bahwa latar belakang ekonomi orangtua bukanlah penghalang untuk meraih masa depan yang gemilang.

“Jangan berkecil hati karena orangtuamu hanya buruh, petani miskin, atau pemulung. Mereka mulia, bekerja keras dengan cara yang halal dan penuh keringat untuk masa depanmu,” ujar Presiden Prabowo.

Di hadapan para menteri dan ratusan siswa yang hadir dalam peresmian tersebut, Presiden Prabowo menyampaikan target yang telah dicanangkan untuk memperluas jangkauan Sekolah Rakyat.

Baca juga: Presiden Prabowo Targetkan 500 Sekolah Rakyat hingga 2029

Pada 2029, ia menargetkan pembangunan hingga 500 Sekolah Rakyat dengan kapasitas setiap sekolah mencapai 1.000 siswa.

“Cita-cita saya di akhir masa jabatan tahun 2029 adalah mengubah nasib mereka yang berada di kemiskinan ekstrem desil 1 dan 2, kita hilangkan kemiskinan ekstrem di Indonesia. Saya ingin anaknya tukang pemulung bisa jadi insinyur, dokter, pengusaha, atau jenderal. Itu cita-cita saya,” tegas Presiden Prabowo.

Melalui semangat kolaborasi antarkementerian dan dukungan pemerintah daerah (pemda), Sekolah Rakyat mampu berdiri tegak sebagai wujud sukacita bagi seluruh rakyat bahwa pendidikan berkualitas kini menjadi hak setiap anak bangsa.

Baca juga: Sulsel Bakal Dapat Tambahan 7 Sekolah Rakyat, Anggaran Capai Rp 200 Miliar per Bangunan

Selamat atas peluncuran 166 Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia. Semoga pendidikan gratis ini mampu menembus sekat-sekat kemiskinan serta memberikan kesempatan yang setara bagi setiap anak untuk menggapai impiannya.

Kamu juga bisa berpartisipasi menyampaikan dukungan dan harapan untuk Sekolah Rakyat dengan cara klik banner di bawah ini, pilih karangan bunga, isi nama dan harapan, lalu submit.

Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau